Enter your keyword

post

PIDATO SAMBUTAN GUBERNUR DKI JAKARTA

PIDATO SAMBUTAN GUBERNUR DKI JAKARTA

DR. ANIES BASWEDAN DI 5TH ISLAMIC EDUCATION EXPO ASESI AHAD 29 OKTOBER 2017

Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah. Alhamdulillahilladzi arsala rasulahu bil huda wa dinil haq, li yuzh-hirahu alad dini kullihi wa kafabillahi syahida. Asyhadu an laa ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluh, la nabiyya ba’dah.

Yang saya hormati Pembina, Pimpinan dan Pengurus ASESI, seluruh peserta dan tamu undangan: assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!

Pertama, saya mengucapkan selamat atas penyelenggaraan (Expo) ASESI yang kelima. Saya pertama kali hadir tetapi melihat pameran di depan sana nampak sekali bahwa geliat kebangkitan pendidikan Islam makin hari makin menguat di Indonesia. Ini adalah sebuah tanda-tanda yang baik. Saya sudah sampaikan sebenarnya jadwal ke sini tidak ada. Lebih baik mendadak datang daripada mendadak batal. Kalau mendadak batal urusannya jadi panjang, begitu.

Saya ingin sampaikan singkat saja. Pendidikan adalah tentang masa depan. Pendidikan adalah tentang menyiapkan generasi baru. Dan Pendidikan tidak ‘membentuk’. Pendidikan ‘menumbuhkan’. Dia menumbuhkan. Karena dia ‘menumbuhkan’ maka yang diperlukan sangat mendasar adalah bagaimana tanah tempat bibit tumbuh bisa subur. Bibit dan tanah tempat tumbuh itu iklimnya baik. Kalau kita membayangkan anak-anak sebagai bibit, biji, ketika masih biji itu dia tidak kelihatan batangnya, tidak kelihatan akarnya, tidak kelihatan daunnya.

Sehebat apapun sebuah biji dia tidak kelihatan semua komponennya. Nanti kalau dia sudah tumbuh berkembang akan terlihat batangnya, akan terlihat daunnya, akan terlihat buahnya, akan terlihat bunganya. Tetapi pada saat dia menjadi biji semua belum terlihat.

Kadang-kadang kita melihat biji seperti melihat tanaman yang lengkap. Lalu kita ingin biji itu punya semuanya: punya bunganya, punya seluruhnya. Tidak bisa! Karena biji itu untuk bisa menjadi tumbuhan yang lengkap memerlukan waktu, memerlukan proses penumbuhan biji yang baik. Membutuhkan lahan yang subur.

Di mana lahan yang subur itu? Kesatu di rumah. Yang kedua di sekolah dan yang ketiga di antara rumah dan sekolah yaitu di lingkungannya. Karena itu kalau kita membicarakan tentang pendidikan bayangkan seperti kita menumbuhkan. Karena itu, saya sering mengatakan jangan gunakan kata ‘membentuk’ apalagi (untuk) akhlak. Akhlak tidak dibentuk. Akhlak itu ditumbuhkan. Karakternya ditumbuhkan. Tidak bisa dibentuk, ditumbuhkan.

Bapak Ibu yang mempelajari biologi waktu SMP pasti pernah praktikum. Tanaman dipasang, yang satu diarahkan dekat matahari yang satu jauh. Beloknya beda bukan? Bibitnya sama, tanahnya sama, pokoknya sama. Yang satu diarahkan didekatkan matahari, yang satu dijauhkan. Arah tumbuhnya sama tidak? Beda! Jadi kita mau belok kanan belok kiri itu bukan tanamannya dibelokkan. Tapi rangsangannya yang berbeda, cuacanya diatur, lokasinya yang diatur. Karena itu mengelola sebuah sekolah, mengelola sebuah Institusi pendidikan itu adalah mengelola rekayasa.

Seperti contoh, di rumah nih. Kita ingin anak kita menjadi anak yang individualis atau anak yang dekat dengan saudara-saudaranya? Ingin dekat bukan? Terus kita bikin rumah nih. Cara bikin rumahnya- anaknya empat misalnya- dibuat empat kamar. Lalu di tiap kamar dibuatkan kamar mandi, kenapa? Ya supaya lebih bersih. Semua kamar mandi di dalam rumah. Keluarga yang lain punya empat anak kamar mandinya di luar, satu. Apa yang terjadi? Yang satu (anak-anaknya) tumbuh individualis.

Karena semuanya diselesaikan sendiri, yang satunya lagi rebutan kamar mandi tiap pagi. Tahu karakternya masing-masing, siapa yang sikatannya lama, siapa yang kalau mandi lama. Siapa yang suka ketok-ketok. Siapa yang samponya suka ketinggalan. Beda bukan? Itulah pendidikan. Jangan bayangkan pendidikan itu suatu yang tertulis,
dihafal dan diujikan. Pendidikan adalah proses pembiasaan. Jadi kita bisa merangsang anak kita sesuai skenario yang kita buat.

Karena itu, kemewahan keluraga dan kemewahan institusi pendidikan adalah jika dia bisa membuat aturan main yang membentuk perilaku. Dan itulah bedanya. Saya berharap sekolah-sekolah yang hari ini pameran dan bapak ibu semua yang bergerak di dunia pendidikan memikirkan rekayasa itu. Karena perilaku ini adalah rekayasa. Bahkan mengaturnya juga begitu. Seringkali sekolah kita sekarang ini anaknya abad 21, gurunya abad 20, ruang kelasnya abad 19. Bahkan abad 17 ruang kelasnya. Ngaturnya masih begini nih, dari sepuluh abad  yang lalu mengaturnya begini. Sekarang berubah! Diubah!

Jadi kalau mau memikirkan sekolah, pikirlah masa depan! Rekayasalah masa depan! Umat Islam sering gagal bukan karena mampu atau tidak mampu, tetapi mengantisipasi beban atau tidak mengantisipasi beban. Ini pe-ernya. Karena itu kalau mengukur keberhasilan anak-anak kita sekarang jangan lihat hari ini. Hari ini bijinya dinilai. Masih biji. Belum apa apa. Nanti ketika dia sudah tumbuh besar baru terlihat. Baru terlihat kualitas buahnya, kualitas daunnya, kualitas batangnya, bisa dinilai. Hari ini dia masih biji.

Karena itu jangan terlalu puas dengan penilaian hari ini. Penilaiannya besok karena ini lah proses penumbuhan. Dari hari ini bisa dibuat trajectory. Trajectory itu yang diprojeksikan ke depan. Nah, saya berharap kita yang mengelola lembaga-lembaga pendidikan jangan puas dengan ukuran harn ini, jangan puas. dan siapkan masa depan.

Disebutkan dalam proyeksi pendidikan Abad XXI ada tiga komponen utama yang mendasar. Nomer satu adalah karakter (akhlak) ini diakui dunia, bukan kita. Tanpa karakter, berat. Karakter itu dua: karakter moral dan karakter kinerja. Karakter moral: iman, takwa, jujur, rendah hati. Karakter kinerja: kerja keras, ulet, tangguh, tak mudah menyerah tuntas. Itu karakter kinerja. Kita kan tidak ingin jujur tapi malas atau kerja keras tapi culas. Yang kedua adalah kompetensi. Dan kompetensi ini ada empat: berpikir kritis, kedua kreatif, ketiga komunikatif keempat kolaboratif bisa kerja sama (empat K).

Yang ketiga: literasi. Keterbukaan wawasan. Dulu kita bicaranya calistung kalau sekarang sudah lewat. Bukan baca tulis hitung. Yang kita harus pikirkan itu minimal lima. Ya, literasi baca. Dan baca itu harus kita tingkatkan. Apalagi di Indonesia. Di indonesia ini minat baca tinggi tapi daya baca rendah. Indikasinya apa? Minat baca WA tinggi, daya
baca buku rendah. Tapi kalau baca WA tahan. Bisa baca WA berjam-jam. Betul ngga? Itu berarti minatnya ada tetapi dayanya rendah begitu tulisan agak panjang skip. Betul engga? Buku agak gede mundur. Itu daya baca rendah.

Daya baca dilatih, literasi budaya, literasi teknologi, literasi keuangan. Jadi bapak ibu sekalian tiga komponen itu yang disebut sebagai proyeksi kebutuhan masa depan bagi anak-anak kita. Yang pertama tetap fundamennya adalah karakter (akhlak) tetapi kompetensinya jangan hilang. Hari ini anak-anak kita diuji diberi kertas berisi pertanyaan ujian. Diminta menjawab. Yang jawabannya nilainya bagus yang apa? Betul! Tetapi yang jawabannya bagaimana? Yang paling mirip dengan yang diajarkan itulah yang benar. Iya engga? Di masa depan ujiannya adalah dikasih lembar kosong. Kerjakan semau anda. Kerjakan semau anda lalu anak kita bingung ga bisa jawab. bingung engga bisa jawab.

Kekalahan umat Islam banyak di urusan seperti ini. Karena tidak mempersiapkan perubahan itu. Pertanyaannya engga ada lagi, kasih lembar kosong. Kalau hari ini ditanya mau jadi apa. Besok sekolah-sekolah ini tidak boleh lagi dan jangan lagi bertanya mau jadi apa? Jangan! Tanya nanti kalau besar mau membuat apa? Karena profesinya sudah engga ada nanti. Dulu saya waktu masih kecil tukang pos itu rutin datang ke rumah, naik motor, warnanya oranye. Wah top betul rasanya naik motor Suzuki itu.

Pengen jadi tukang pos. Hari ini ada tukang pos? Email semua! WA! Betul, ga? Bayangkan besok perubahannya lebih cepat. Yang diketahui hari ini belum tentu ada profesinya di masa depan. Jadi pengelola institusi pendidikan jangan terpukau dengan cerita masa lalu. Gelisahlah dengan masa depan! Gelisahlah dengan sekolah-sekolah terbaik dunia hari ini. Jangan puas melihat masa lalu. Kami sudah seperti ini, bukan. Teman-teman ini saya sampaikan sebagai bagian dari kita bersiap.

Kemenangan itu dipersiapkan di ruang keluarga dan di ruang-ruang kelas! Di situ kebangkitan umat akan terjadi! Kalau itu dikerjakan dengan serius, tiga komponen tadi disiapkan: akhlak karakter, kompetensi, literasi, sesudah itu biarkan mereka terbang! Mereka akan siap untuk menghadapi apa saja. Dan ini yang insya Allah yang kita sama-sama (kerjakan). Mudah-mudahan sekolah-sekolah ini adalah sekolah-sekolah yang menyiapkan masa depan. Dan semoga bapak ibu semua yang bekerja di sini -saya sekarang bekerja di pemerintahan – izinkan saya mengucapkan terima kasih! Bapak ibu semua menyelenggarakan pendidikan padahal tidak memiliki kewajiban konstitusional untuk mendidik, engga ada perintah undang-undang untuk mendidik tetapi bapak ibu memilih untuk mendidik anak-anak kita dan saya ingin ucapkan terima kasih telah ikut menyiapkan anak-anak Indonesia masa depan. Insya Allah ini akan dicatat sebagai amal shaleh bagi bapak ibu semuanya.

Itu saja yang bisa saya sampaikan kurang lebihnya mohon dimaafkan. Saya mohon izin meneruskan kalau boleh menuju kewajiban yang sudah saya komit. Saya ucapkan selamat. Semoga diskusi, seminar dan insyaa Allah ikhtiar mendidik anak-anak kita akan bukan saja dimudahkan jalannya tapi selalu dalam ridha Allah. Berikut cuplikan videonya

Terima kasih! Billahit taufiq wal hidayah. Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.